. .
[iklan]

TIPS MENGURANGI POTENSI KESALAHPAHAMAN PEMBACA

 TIPS MENGURANGI POTENSI KESALAHPAHAMAN PEMBACA

.

.

Salah satu cara yang harus dilakukan untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi potensi kesalahpahaman pembaca atas pesan yang disampaikan penulis, maka semua produk teks jurnalistik termasuk opini haruslah ditulis dengan kalimat efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang sesuai dengan pedoman ejaan bahasa, memiliki subjek dan predikat yang jelas, serta tidak bermakna ganda, sehingga pesan yang disampaikan penulis sama dengan yang diterima pembaca. Lantas, bagaimana cara mengetahui kalimat yang dibuat sudah efektif? Berikut beberapa tipsnya. Semoga dapat membantu.

.

PERTAMA, SEMUA KALIMAT YANG DITULIS HARUS SESUAI DENGAN PEDOMAN EJAAN BAHASA. Tulisan yang dibuat harus sesuai dengan pedoman ejaan bahasa jurnalistik yang digunakan media massa yang ditarget untuk memuat opini Anda. Bila media tersebut menggunakan bahasa Indonesia, maka naskah opini yang dikirim haruslah sesuai dengan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI). Bila tidak, selain tulisannya menyalahi tata bahasa Indonesia, juga membuka peluang lebih besar untuk timbulnya kesalahpahaman di benak pembaca. 

.

Contohnya terkait huruf kapital (menggunakan atau tidak menggunakan huruf kapital) di awal kata dan spasi (dengan atau tanpa spasi) dalam frasa. Meskipun redaksi katanya sama, bila penggunaannya (huruf kapital dan spasi) berbeda, maknanya akan berbeda pula. Perhatikan perbedaannya pada ketiga contoh di bawah ini:

.

1. Kepala Budi dipalu terasa pusing.

2. Kepala Budi di Palu terasa pusing. 

3. Kepala Budi di palu terasa pusing.

.

Bila maksud penulis ‘kepala Budi terasa pusing karena dipukul menggunakan palu’, maka kalimat yang efektifnya adalah nomor satu (dipalu). Namun bila penulis menuliskannya menggunakan nomor dua (di Palu), maka kalimatnya menjadi tidak efektif. Karena, pembaca yang merujuk PUEBI akan mengira bahwa maksud penulis bukan ‘dipukul pakai palu’ tetapi ‘berada di Kota Palu’.

Sebaliknya, bila maksud penulis ‘kepala Budi pusing ketika berada di Kota Palu’, maka kalimat yang efektifnya adalah nomor dua (di Palu). Namun bila penulis menuliskannya menggunakan nomor satu (dipalu), maka kalimatnya menjadi tidak efektif. Karena, pembaca yang merujuk PUEBI akan mengira bahwa maksud penulis ‘bukan ketika berada di Kota Palu’ tetapi ‘dipukul pakai palu’.

.

Lantas bagaimana dengan contoh nomor tiga? Apa pun yang dimaksud penulis, dan apa pun pesan yang ditangkap pembaca, maka secara PUEBI, kalimat tersebut bermakna ‘kepala Budi terasa pusing ketika berada/menempel di palu (alat untuk memukul paku, bukan Kota Palu)’.

.

Kalimatnya benar-benar tidak efektif kan?  Bahkan maknanya tidak masuk akal! Palunya sebesar apa coba sehingga Budi bisa berada di palu? Kecuali Budi itu adalah nama makhluk yang lebih kecil dari palu. Misal, Budi itu nama semut. He… he…. Tapi kok tahu ya semutnya pusing? Nah, kan!

.

Maka harus dipahami perbedaan awalan di- dengan kata depan di.  Awalan di- merupakan imbuhan yang berfungsi untuk membuat kalimat menjadi pasif dan penulisannya digabung dengan kata benda atau kata kerja di depannya. Contoh: di- + palu = dipalu. Artinya: Dipukul pakai palu. 

.

Sedangkan, kata depan di berfungsi untuk menunjukkan keterangan tempat atau menunjukkan keterangan waktu. Penulisannya harus dipisah (pakai spasi) dengan kata di depannya. Contoh: di + palu = di palu. Artinya, berada pada palu atau menempel pada palu. Contoh lain: di + Palu = di Palu. Artinya, berada di Kota Palu. Karena, bila Palu itu nama tempat maka huruf awalnya harus pakai huruf kapital. Kalau palu itu nama benda/alat huruf awalnya jangan pakai huruf kapital. 

.

Lihat, itu baru salah satu contoh penggunaan huruf kapital dan penggunaan spasi. Maknanya sangat jauh sekali bukan? Belum lagi membahas contoh pedoman umum lainnya dalam ejaan bahasa Indonesia (EBI). Misal: pedoman memiringkan kata, penggunaan tanda baca, penggunaan tanda kutip ganda. Di sinilah relevansinya mengapa Anda harus menulis kalimat sesuai dengan PUEBI. Ayo, buka dan pelajari baik-baik PUEBI-nya ya.

.

KEDUA, MEMILIKI SUBJEK DAN PREDIKAT YANG JELAS. Bila subjeknya dan atau predikatnya tidak jelas, maka, kalimat yang dihasilkan tidaklah efektif. 

.

Contoh di atas (dipalu, di Palu, di palu), bisa juga jadi contoh penggunaan predikat yang tak jelas. Karena tak jelas apakah (dipalu, di Palu, di palu) tersebut sebagai predikat atau sebagai keterangan tempat. Bila maksudnya adalah predikat, maka yang benar menggunakan frasa: dipalu. Bila keterangan tempat maka yang benar menggunakan frasa: di palu, di Palu.   

.

Sedangkan contoh kalimat yang terkait subjek, salah satunya seperti tiga contoh di bawah ini. 

.

1. Perhatian! Yang membawa telepon seluler harap dimatikan sebelum shalat berjamaah.

2. Perhatian! Yang membawa telepon seluler harap mematikan telepon selulernya sebelum shalat berjamaah. 

3. Perhatian! Matikanlah telepon seluler Anda sebelum shalat berjamaah.

.

Meskipun penulisannya rancu sebagaimana contoh nomor satu, pastilah yang dimaksud penulis adalah telepon selulernya (objek) yang dimatikan (predikat), tetapi bila pembacanya mengacu kepada PUEBI, maka makna yang ditangkap adalah orang yang membawa telepon selulernya (subjek) yang dimatikan (predikat).  

.

Agar kalimatnya menjadi efektif maka harus jelas subjeknya berpredikat apa. Salah satunya seperti contoh nomor dua. Contoh nomor dua di atas jelas sekali maknanya yakni orang yang membawa telepon seluler (subjek) yang mematikan (predikat) telepon selulernya (objek). 

.

Bagaimana dengan contoh nomor tiga? Contoh nomor tiga ini unik, meski tak disebut secara tertulis subjeknya (orang yang mematikan ponsel), tetapi maknanya jelas sekali bahwa objek (telepon seluler Anda) yang dimatikan (predikat). Jadi, walau subjeknya tak disebut tetapi tetap tergolong kalimat efektif karena jelas objek yang diperlakukan (predikat) oleh subjek itu adalah ponsel. Karena fokus bahasannya pada ponsel (objek) yang harus dimatikan (predikat), tak jadi masalah bila subjeknya tak disebut. 

.

Lebih dari itu, contoh nomor tiga juga termasuk kalimat efesien. Mengapa dikatakan efesien? Karena mampu mengurangi kata bahkan frasa tanpa mengurangi keefektifannya. Dalam kasus contoh tersebut mampu menghilangkan frasa subjek (Yang membawa telepon seluler) tanpa mengubah pesan yang disampaikan (mematikan ponsel).  

.

KETIGA, TIDAK BERMAKNA GANDA. Kalimat yang ambigu (bermakna ganda) tentu saja berpeluang besar membuat kalimat tidak efektif alias makna yang dimaksud penulis bisa berbeda sama sekali dengan makna yang ditangkap pembaca. 

.

Contoh pembahasan tentang predikat (dipalu, di Palu, di palu). Misal: Kepala Budi di palu terasa pusing. Maknanya apa sih? Mestilah ada yang memaknai (1) dipukul pakai palu, (2) ketika berada di Kota Palu, bahkan bila konsisten terhadap PUEBI maka kalimat tersebut jadi tidak masuk akal karena mana mungkin manusia yang bernama Budi (3) berada di palu (alat untuk memukul palu)? Tapi masuk akal juga sih, bila palunya adalah palu raksasa. Ha…ha…  

.

Contoh ambigu lainnya seperti pada ketidakjelasan subjek pada kalimat: Yang membawa telepon seluler harap dimatikan sebelum shalat berjamaah. Karena yang dimatikan itu ada dua kemungkinan yakni (1) orang yang membawa ponsel, atau (2) ponselnya.

.

Demikianlah tipsnya. Semoga dapat membantu Anda bisa membedakan kalimat efektif versus tidak efektif. Dengan demikian Anda bisa menulis dengan kalimat efektif sehingga dapat menghilangkan atau setidaknya mengurangi secara signifikan potensi munculnya kesalahpahaman dari pembaca. Aamiin.[]

.

Depok, 26 Syawal 1443 H | 27 Mei 2022 M

.

.

Joko Prasetyo

Jurnalis 





senang narasi "zero-to-hero"

 *NARASI ZERO TO HERO*


(c) R Andika Putra Dwijayanto 


Sepertinya orang Indonesia itu banyak yang senang dengan narasi "zero-to-hero." Orang biasa saja, di luar entitas resmi, menemukan sesuatu yang dianggap luar biasa, lalu digembar-gemborkan oleh media dan netijen yang maha budiman. Meski realita penemuannya itu biasa saja bahkan bukan sesuatu yang baru sama sekali, tetap saja dielu-elukan oleh masyarakat bahkan secara berlebihan.


Lebih buruk lagi, akademisi, intelektual, dan peneliti beneran yang meluruskan so-called penemuan tersebut malah mendapat backlash. Diserang balik, dikata-katai, direndahkan, seolah mereka itu orang bodoh dan tidak punya kontribusi apa-apa. Pembelaan mati-matian pada sosok "hero" dan menganggap siapa pun yang mengkritik "hero" mereka sebagai "villain" yang wajib dihancurkan.


Narasi "zero-to-hero" ini sebenarnya berbahaya, karena mendistorsi realitas fisis produk saintek hanya karena sentimen emosional belaka. Jadinya benar-salahnya, terbukti-tidaknya, suatu penemuan saintek itu bukan lagi dinilai pada pembuktian riil berbasis keilmuan, melainkan pada sentimen emosional. 


Sepertinya ini terjadi karena beberapa hal,


1. Rendahnya literasi saintek masyarakat,

2. Hausnya masyarakat akan prestasi anak bangsa,

3. Ketidaksukaan terpendam masyarakat terhadap establishment yang dianggap tidak pernah melakukan apa-apa,

4. Minimnya sesuatu yang bisa mereka banggakan,

5. Tiadanya entitas yang bisa mereka kagumi,

6. Terpisahnya sektor riset saintek dengan masyarakat (menara gading),

7. (ada lagi?)


Yang jelas ini berarti ada masalah besar dalam dunia riset saintek Indonesia. Karena apa yang dikerjakan para Periset tidak mampu dilihat oleh masyarakat dan (dianggap) tidak mampu menghasilkan penemuan yang "mengguncang dunia persilatan."


Apakah ini salah Periset dan lembaganya? Belum tentu. Sebab masalahnya kompleks, mulai dari atas (pemerintah selaku pemberi dana), tengah (lembaga riset yang melaksanakan), hingga bawah (masyarakat selaku pengamat dan penerima). Kalau dari pemerintahnya sendiri tidak peduli pada riset, kedaulatan teknologi, penguasaan teknologi mulai dari hulu, cuma peduli pada teknologi siap pakai dan hasil instan, mau seberapa besar dana yang mereka kucurkan ke lembaga riset?


Kalau dari lembaga riset tidak mendapat dana yang cukup dari pemerintah, harus mengemis dana dari luar, dibebani birokrasi berbelit (yang makin sini makin menyusahkan), penghasilan tidak sesuai tuntutan, beban tuntutan luaran banyak tapi jaminan anggaran tidak ada, arah riset yang tidak jelas, lantas hasil luaran seperti apa yang bisa diharapkan?


Kalau masyarakatnya tidak melek saintek, literasinya buruk, tidak paham metode ilmiah, pendidikannya pas-pasan, sistem pendidikan tidak membentuk lulusan yang literat, penguasa yang mereka lihat pun tidak menunjukkan kepahaman terhadap perkara saintek, maka bagaimana ceritanya masyarakat bisa cerdas dalam menyikapi berbagai info terkait saintek?


Penemuan dalam bidang saintek bukan monopoli suatu pihak. Siapa saja bisa menemukannya. Tinggal apakah penemuan tersebut benar-benar mampu berfungsi dengan baik dan benar atau tidak, sesungguhnya itu bisa dinilai secara objektif menggunakan prinsip-prinsip ilmiah. Sentimen-sentimen emosional tidak memiliki nilai dalam penentuan sebuah penemuan itu bagus atau tidak. Tapi selama masalah-masalah sistemik di atas belum diatasi, agaknya narasi "zero-to-hero" masih akan menghiasi layar kaca dan layar ponsel masyarakat. Perlu upaya sistemik dan mendasar supaya dunia riset Indonesia bisa benar-benar menjalankan fungsinya dengan baik dan ada hasil yang sungguh-sungguh bisa dirasakan manfaatnya. 




TIPS Agar Tulisan Anda DIMUAT MEDIA MASSA

 TIPS AGAR OPINI ANDA DIMUAT MEDIA MASSA

.

.

Tak sedikit penulis yang mendambakan naskahnya dimuat media massa. Ada yang karena ingin menunjukkan eksistensi diri, mendapatkan uang, dan lain sebagainya. Namun yang jauh lebih penting dari itu semua, dimuatnya opini bagi para aktivis Islam merupakan salah satu cara agar jangkauan dakwah lewat tulisannya bisa sampai ke khalayak yang jauh lebih banyak dibanding hanya diunggah di lingkaran pertemanan medsosnya sendiri. 

.

Sehingga, potensi orang yang membaca dan tersadarkan melalui tulisan dakwahnya jadi lebih besar. Dan, tentu saja harapan mendapatkan pahala jariah lebih banyak lagi. Apalagi setelah dimuat media, disebarkan lagi di medsos, insyaallah jangkauannya berlipat ganda. Namun, sayangnya, banyak yang kesulitan tulisannya dimuat media massa. Bagi Anda yang mengalami masalah yang sama, semoga tips di bawah ini bisa membantu. 

.

PERTAMA, TULISAN YANG DIBUAT HARUS SESUAI DENGAN VISI MISI MEDIA MASSA YANG DIKIRIMI NASKAH. Jangan lupa, setiap media massa memiliki visi misinya sendiri. Maka, analisis dari naskah opini yang dikirimkan harus sesuai dengan visi misi media tersebut. Namun, para aktivis dakwah juga tidak boleh mengorbankan visi misi dakwahnya. Cari aja titik temunya antara media dan visi misi dakwah.  

.

Misal, media massanya mengusung demokrasi, lalu Anda mengirimkan naskah yang menentang demokrasi, ya peluang dimuatnya sangat kecil, kalau tak mau disebut tak mungkin dimuat. Maka, bila tetap bersikukuh mengirimkan ke media tersebut, jangan pula malah jadi mendukung demokrasi! Tapi carilah titik temunya. Bila media tersebut mengkritik rezim, Anda juga bisa mengkritik rezim dalam rangka muhasabah lil hukkam (mengoreksi kepada penguasa) yang dalam Islam memang hukumnya wajib.

.

Jadi, sebelum mengirimkan naskah, harus tahu persis media yang akan dikirimi itu ke mana arah berpikirnya. Makanya, harus membaca-baca dengan cermat opini-opini yang dimuat itu seperti apa. Pelajari polanya. Dengan demikian, Anda bisa tahu polanya opini yang seperti itu yang dimuat, nanti buat opini yang seperti itu. 

.

KEDUA, SESUAI DENGAN KAIDAH JURNALISTIK. Tulisan opini yang dibuat harus sesuai dengan kaidah jurnalistik, baik secara anatomi (mulai dari judul, paragraf pertama, tubuh tulisan, hingga paragraf terakhir harus sesuai dengan anatomi opini), bahasa jurnalistik yang digunakan (kalau menggunakan bahasa jurnalistik Indonesia ya harus sesuai dengan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia [PUEBI] dan Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI]) ataupun kaidah teknis jurnalistik lainnya termasuk keterkaitan antar paragraf, dan logika penulisannya harus pas. Tak boleh melompat, apalagi tidak nyambung dengan paragraf berikutnya.  

.

Coba sekarang bayangkan Anda sebagai penjaga rubrik (jabrik) opini, di depan Anda ada dua naskah yang salah satunya harus dipilih untuk dimuat, keduanya sama-sama sesuai dengan visi misi media tempat Anda bekerja. Yang satu ditulis sesuai dengan kaidah jurnalistik sehingga tinggal dimuat, yang satunya lagi perlu diedit berat. Pilih yang mana?

.

KETIGA, MUJUR. Bila sudah sesuai visi misi media dan kaidah jurnalistik, berikutnya ya Anda berdoa saja kepada Allah SWT semoga mujur. Hal itu harus dilakukan dalam setiap mengirim opini ke media massa mana saja apalagi bila naskah opininya dikirim ke media massa nasional yang sudah profesional dan mapan. Karena meskipun tulisannya sesuai visi misi dan kaidah jurnalistik, belum tentu dimuat. Lantaran bisa jadi tidak dibaca oleh si penjaga rubrik (jabrik) opini, atau yang diperlukan hanya dua tulisan, sedangkan tulisan Anda adalah yang ketiga.  

.

Pasalnya, persaingan sangat ketat. Di setiap kota yang ada di Indonesia ada seorang saja yang mengirimkan tulisannya. Sementara, di Indonesia ada kira-kira 500 kota. Berarti ada 500 naskah per hari. Seperempatnya saja yang mengirim, maka sehari media tersebut menerima 125 tulisan. Padahal, paling hanya sekitar dua tulisan yang akan dimuat. Dengan begitu, peluang sebuah tulisan akan terpilih tentu sangat kecil. 

.

Sangat mungkin tidak semua tulisan opini yang dikirim itu dibuka, apalagi dibaca oleh bagian pengasuh rubrik opini, karena saking banyak naskah opini yang masuk. Biasanya saya (dalam kapasitas sebagai jabrik opini) membuka tulisan yang masuk secara acak. Awalnya baca judulnya dulu. Bila tak menarik, naskah disingkirkan. Bila menarik, diteruskan membaca paragraf pertama (teras, lead), dan begitu seterusnya untuk setiap paragrafnya menggunakan seleksi sistem gugur (begitu ditemukan ada bagian dari naskah yang tak memenuhi kaidah jurnalistik ataupun tak sesuai visi misi, langsung disingkirkan).

KEEMPAT, PANTANG MENYERAH. Jangan kapok kalau tulisannya tidak dimuat. Tetap semangat untuk menulis lagi dan mengirimkannya lagi. Kalau mendapat kritik dari si jabrik (sebagian media massa mengembalikan naskah penulis sembari memberi masukan), perhatikan baik-baik dan jangan sampai terulang kesalahan yang sama pada tulisan berikutnya. Lalu kirimkan lagi. 

.

Jadi memang, tulisan yang dikirim itu harus sempurna. Ya, harus sempurna mulai dari judul, paragraf pertama dan seterusnya. Semuanya dibuat sesesuai mungkin dengan kaidah jurnalistik. Isinya menarik, pilihan diksi kata yang dipakai juga harus pas, enggak banyak salah ketik. Karena, pesaingnya banyak dan tak sedikit yang jago menulis. Harus juga sesuai dengan visi misi media massa yang dikirimi naskah. 

.

Salah satunya tak terpenuhi, maka meski naskahnya dibaca si jabrik, bisa langsung disingkirkan. Namun, bila sudah terpenuhi, ya belum tentu juga dibaca si jabrik alias belum mujur. Maka, selain tetap semangat dan pantang menyerah, tawakal mesti maksimal. Berdoa dengan khusyuk agar Allah SWT menggerakan si jabrik membuka dan membaca naskah dari Anda, cocok, kemudian dimuat. Aamiin.[]

.

Depok, 29 Syawal 1443 H | 30 Mei 2022 M

.

.

Joko Prasetyo

Jurnalis 






Sewa mobil Avanza harian lepas kunci

888: mengenai *Jagad Trans*, saya ingin...
888: Pagi untuk penyewaan mobilnya avanza harian berapa ya
888: Saya dr bali stay di santika padegling untuk tgl 4 oct-6 oct
888: Trims
888: Sy dg luli pak, bisa lepas kunci ya?
Afa: Ya. Bisa kalau memenuhi kualifikasi.
Dengan pak Agus ya.

Pameran Karya Studi Ponpes Sidoarjo

 





Pameran Karya Studi

"SINAU CARI SANGU"

(14 - 21 Mei 2022)

Di Ponpes Nibrosul Ulum, Sidoarjo


Peserta Pameran :

Santriwan : Fahmi, Faiz, Faruq, Hamzah, Rizky.

Santriwati : Annisa, Bunga, Dewi, Najwa, Nelly, Rahma.


CATATAN PENGANTAR

Pameran Studi  "SINAU CARI SANGU" tahun 2022.


Karya-karya yang dipamerkan adalah hasil karya tugas atau studi seni budaya dan khat kaligrafi para santriwan santriwati. Ada karya ragam hias dengan media tekstil dan kayu, ada juga karya kaligrafi dengan media tinta hitam dan cat air berwarna. Judul-judul karya yang mendekatkan diri kepada Al-Khaliq dan kaligrafi khat mendominasi. Semua karya memberikan kisah tentang proses belajar.


Jangan takut jelek. Selama kita berkarya pada jalur proses, itu keren. Yang nggak keren itu yang nggak mau berproses. Jangan takut menggoreskan garis, karena garis akan menunjukkan pada rasa percaya diri. Jangan takut menuangkan warna, karena warna akan menunjukkan pada rasa peka akal dan hati.


Kita semua sedang sinau (belajar). Sinau berbagai ilmu pengetahuan, terutama ilmu agama. Kita semua telah memahami dengan ilmu agama kita selamat dunia akhirat, dan dengan ilmu pengetahuan yang lain kita bermanfaat dengan sesama insan.


Sinau ini merupakan proses. Proses mencari sangu (bekal). Bekal mengarungi kehidupan dunia supaya kehidupan dunia penuh rahmat dan berkah. Bekal ini juga merupakan bekal kehidupan di akhirat kelak, karena kehidupan di sana akan di tentukan di sini.


Maka, kita harus senantiasa sinau untuk mencari sangu. Beriman dan bertaqwa, menjaganya hingga kembali kepadaNya. Meraih cita-cita kehidupan dunia menuju kegemilangan kembalinya Islam menaungi dunia. Meraih kerahmatan dan keberkahan dunia dan akhirat. Aamiin.


Selamat berpameran anak-anak semua. Semoga sukses dan berkah. Teruslah berkarya!


Sidoarjo, 14 Mei 2022


Cak Su 

(Jejaring Seniman Muslim KHAT Jatim). 


Bikin Saus Sambal Homemade

 Alhamdulillah berhasil bikin saus sambal homemade ☺☺☺ , rasanya mirip saus ABC


SAOS SAMBEL 


Bahan***

100 gram cabe rawit / kecil

500 gram tomat/ 3 ukuran besar

400 ml air 

3 sdm cuka/ bisa pakai jeruk lemon

2 sdm garem

200 gram gula pasir

50 gram bawang putih

2-3 sdm tepung maizena...Taruh dalam mangkok tuangi air dikit, aduk rata.


Cara buat

Rebus tomat,cabe,bawang putih dengan 400 ml air,
rebus sampai lunak,
tunggu dingin baru diblender,
siapkan wajan tuang dan saring, n yalakan kompor.
Bila sudah mendidih masukan gula, Garem, cuka, jangan masuk sekalian icipi bila dirasa cukup boleh dikurangi dan ditambahi,
setelah dirasa cukup tuangi maizena yang sudah dicampur air tadi, aduk searah dengan cepat biar gak mengumpal, bila kekentalan sudah cukup aduk kurleb 5 menitan.
sampai saos sambal lentur,  licin, matikan kompor.

Met mencoba.


Yani Indriyati

Foto Kegiatan Belajar Naik Kuda di Bandung

 






















































Belajar naik kuda 



Catatan Sementara

 
© 2021 Catatan Afandi Kusuma | www.suwur.com | Furniture.Omasae | JayaSteel | OmaSae | suwur | Galvalum | DepoAirIsiUlang | Seluruh Arsip